Only God Knows

post



Gusti alloh tau kapan saatnya yang terbaik...
Setelah dipikir-pikir, betapa beruntungnya aku ya. Habis merit dikasih waktu yang lebih dari cukup untuk bulan madu..hehehe..Dikasih waktu untuk menata diri. Dan akhirnya Dia melimpahkan apa yang selama ini kami dambakan pada saat yang tepat.
Bukan sebuah perjalanan yang mudah, tapi asalkan semuanya dijalani dengan ikhlas, pasti akan terwujud. Perjuangan untuk mendapatkan si buah hati ini tidaklah mudah, tapi ngga susah juga sih..hehe.

Setelah 5 bulan menikah, bulan Maret 2011 ku putuskan untuk konsultasi ke dokter kandunganku. Sebenarnya pada saat setelah menikah aku sudah menemui beliau untuk mengikuti program kehamilan. Dan pada kali ke 2 ini kusampaikan keluh kesahku yang tak kunjung hamil. Tapi kata dokterku, dengan umur pernikahanku itu sangatlah wajar jika belum punya anak dan aku disarankan untuk menunggu hingga usia pernikahan kami 1 tahun. Waktu itu aku juga meminta resep obat untuk penyubur kandungan karena suami mau pulang (suamiku waktu itu masih kerja di luar kota dan rosternya 8 minggu 11 hari). Dokter akhirnya mau memberikan resep, karena kebetulan juga jadwal bulananku pada bulan itu terlambat. Dalam hati berharap bulan April nanti si dedek udah ada di perut.

Sampai bulan Juni 2011 ternyata si dedek tak kunjung datang. Kebetulan juga kegiatan kantor sedang padat-padatnya. Selama kurun waktu itu ada 3 kegiatan lapangan yang cukup menguras tenaga yang harus ku ikuti. Dalam hati bersyukur, untunglah si dedek belum ada, kan kasihan kalau sampai di ajak naik turun gunung gitu..hehe.

Juli 2011, Hubby dah pindah ke Jakarta sejak bulan Mei yang lalu. Jadi frekuensi bertemu pun semakin sering. Seminggu Hubby bisa pulang sampai 2 kali..hihihi...katanya ngga betah dengan cuaca di Jakarta. Aku baru pulang dari Bali, kegiatan lapangan sekaligus jalan-jalan...hehehe...lumayan. Tapi tanggal 8 Juli tiba-tiba aku sakit, demam batuk pilek sampai ngga bisa bangun dari tempat tidur. Sampai-sampai Hubby harus pulang ke Bandung lebih cepat saking kuatirnya. Siangnya aku diantar Hubby ke poliklinik, dan dikasih antibiotik dan obat batuk. Tapi obat batuknya parah banget, aku berasa nggak sadar tiap kali abis minum obat. Dan karena sedang masa subur, aku ngga berani minum antibiotik. Jadinya aku cuma minum obat batuknya aja, itupun cuma 2 kali. Untungnya habis itu penyakitnya langsung sembuh.

Akhir Juli 2011, tanggal 20 aku dipanggil untuk mengikuti diklat selama 3 minggu. Tanggal 26 ternyata ada kegiatan praktek lapangan di Sukabumi. Karena biasanya tamu bulananku datang sekitar tanggal 22-an dan karena kebiasaan sebelum ke lapangan, tanggal 22 pagi aku pakai testpack. Subhanalloh, akhirnya aku melihat 2 strip merah jambu di stiknya, meskipun yang satunya masih samar-samar. Langsung ku hubungi suamiku, dan kuceritakan kejadian pagi itu. Mungkin karena masih terlalu pagi jadi suamiku masih males-malesan menanggapinya. Dari nada-nadanya sih belum percaya. Kami sama-sama belum percaya, jadi siangnya aku beli 2 testpack lagi. Malam hari dan besok paginya aku cek lagi dan kedua-duanya menunjukkan hasil yang sama dengan hasil testpack ku yang pertama. Karena belum terlalu percaya, siangnya aku pergi ke dokter, sayangnya dokter langgananku seding libur praktek hari Sabtu, jadinya aku cari dokter lain. Jadilah siang itu ak bertemu si bapak dokter. Setelah ditanya keluhan, pak dokter nampak belum percaya waktu aku bilang kalau hamil karena memang hari itu aku baru telat sehari.
Akhirnya dari hasil USG, baru pak dokter yakin karena ternyata sudah terbentuk kantong kehamilan di rahimku. 
Yuhuuuiii... dan hasil USG itu menjadi kado terindah untukku dan suamiku (Hubby ampe bengong-bengong pas liat hasil USG-nya, karena memang kantungnya masih kecil banget, GS : 0,3 cm begitu yang kubaca).


0 komentar:

Post a Comment

Fav News

Real-Mistery.blogspot.com